Lapangan Bulutangkis Sebelah Rumah

July 16th, 2007 by astrikusuma

Sejak kecil aku sudah terbiasa mendengar berbagai suara dari lapangan itu. Sorak sorai penonton saat pertandingan tujuh belasan, sampai tangis pemain tunggal putri dari RT sebelah ketika kalah rubber set dengan selisih hanya dua angka di set ketiga. Kasihan sekali. Padahal parasnya manis. Sayang urusan wajah tak berpengaruh dalam hal tepok bulu angsa. Selengkapnya

Masa Orientasi Siswa dan Surat Cinta Berbahasa Jawa

July 16th, 2007 by astrikusuma

Mulai hari ini, adik bungsu saya resmi jadi anak SMA. Seperti biasa, ada yang namanya Masa Orientasi Siswa (MOS) yang tidak mutu itu. Ketahuan sekali ya kalau saya kurang sreg dengan acara yang satu ini, hehehe…

Bayangkan, MOS yang berlangsung selama beberapa hari itu telah membuat orang serumah (termasuk saya, tentu saja ) ”heboh” di sepanjang akhir minggu kemarin. Si bungsu punya daftar panjang tentang apa saja yang harus di bawa hari ini. Mulai dari tali sepatu, sego jagung (nasi jagung), 50 ekor ikan teri, tempat sampah bertutup ukuran besar berwarna biru, kaos oblong putih, celana kain hitam, sampai surat cinta berbahasa Jawa!

Bukannya tidak suka berbahasa Jawa, tapi njuk apa hubungannya MOS dengan surat cinta berbahasa Jawa? selengkapnya

Chrisye : Semangat Mengejar Harapan

April 7th, 2007 by astrikusuma

Judul             : Chrisye Sebuah Memoar Musikal
Penulis           : Alberthiene Endah
Penerbiat        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan         :  2007 (Cetakan I)
Halaman         : 373 halaman

Seorang penyanyi legendaris seperti Chrisye tentu punya banyak penggemar. Mulai dari yang sekarang sudah jadi kakek nenek sampai yang baru berusia duapuluhan. Ya, kita kenal lagu-lagunya dan bisa menyanyikannya. Ya, kita juga tahu soundtrack “Badai Pasti Berlalu” sangat menggetarkan, tapi bagaimana proses pembuatannya? Bagaimana pula awal Chrisye berkenalan dengan James F Sundah yang berujung dengan kepopuleran lagu Lilin-Lilin Kecil? Lantas, bagaimana persiapan Chrisye menjelang konser “Sendiri” tahun 2004? Gugup? Kuatir? Atau justru percaya diri?  Bukankah itu konser pertama yang digelar penyanyi Indonesia di Plenary Hall?


Chrisye Sebuah Memoar Musikal adalah jawabannya. Bukan biografi, melainkan sebuah memoar musikal. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Chrisye. “Saya akan mengungkapkan apa yang perlu diketahui orang tentang semangat bermusik. Hidup saya menyimpan banyak pengalaman musikal, yang selama ini saya simpan sendiri. Lewat buku ini, saya ingin orang bisa belajar tentang semangat mengejar harapan. Bukan hanya karena ingin tahu hidup saya seperti apa.”(halaman 9). Semangat mengejar harapan yang menjadi kata kunci dari buku ini seolah menunjukkan semangat Chrisye untuk terus berjuang walau saat buku ini ditulis dia dalam kondisi sakit.

Penghargaan khusus juga perlu diberikan pada penulis buku ini, Alberthiene Endah. Kalimat-kalimatnya mengalir lancar, membuat buku ini begitu nyaman untuk dibaca. Tak ingin berhenti sebelum mencapai halaman terakhir. Cara Alberthiene menyampaikan momen penting dalam perjalanan musikal Chrisye sangat menyentuh. Misalnya saja pada bagian ketika Chrisye menemukan “suara aslinya”!

“Selama masa vakum itu, saya mulai mengutak-atik kertas. Menciptakan lirik, mencoba membuat notasi. Menyenandungkan melodi ciptaan saya. Dalam kesendirian itu, sesuatu yang ajaib terjadi. Yang biasanya saya terbiasa menyamakan cengkok suara seperti penyanyi asli lagu yang saya nyanyikan, kali ini saya terkesima dengan suara asli saya! Apa yang saya rasakan? Saya mendengar suara yang halus, lembut, empuk. Itu suara saya yang sesungguhnya”.

Tidak hanya itu, buku ini juga dilengkapi cerita dibalik pembuatan album-album Chrisye. Mulai tentang penulisan lagunya, musisi yang bekerjasama dengannya, sampai tentang sampul albumnya! Hebatnya Chrisye, dia mau mengambil pembelajaran dari setiap album yang telah dia luncurkan. Meledak atau tidaknya sebuah album yang dilempar ke pasaran adalah hal biasa yang harus bisa dihadapi oleh setiap penyanyi. Yang penting adalah bagaimana menyikapinya. Apakah akan berusaha lebih baik di album berikutnya atau justru memilih mundur teratur. Uniknya, dalam buku ini Chrisye memberi saran bagi setiap musisi untuk tetap bertahan sampai di album kelima. “Jika kegagalan terus muncul sampai di album kelima, barulah dipertimbangkan, apakah album selanjutnya perlu dibuat lagi. Kalau perlu, buat strategi yang benar-benar baru.”

Kemampuan menganalisis kemauan pasar juga menjadi sebuah modal besar bagi Chrisye untuk terus bertahan selama beberapa dekade. Gaya Chrisye ketika di atas panggung boleh “begitu-begitu saja”, tapi tidak dengan albumnya. Selalu mengandung inovasi. Selalu ada yang baru. Contohnya, membuat album berformat akustik di tahun 1996 yaitu “AkustiChrisye”. Selain itu, Chrisye juga bekerjasama dengan penyanyi lain seperti Waljinah, Peterpan, ataupun Sophia Latjuba.

Lantas, diantara begitu banyak lagu yang telah dinyanyikan oleh Chrisye, adakah yang mendapat predikat “lagu tersulit untuk dinyanyikan?” Jawabannya, ada! Ketika Tangan dan Kaki Berkata, sebuah lagu tentang hari akhir, yang liriknya ditulis oleh sastrawan Taufik Ismail. Saat proses rekaman, Chrisye hanya sanggup menyanyikan lagu ini sekali, selanjutnya, menangis. 

Begitulah, sebaikya Anda baca sendiri buku ini. Banyak cerita di dalamnya, sangat banyak. Kalaupun ada bagian dalam buku ini yng membuat saya sedih, itu adalah ketika saya membaca bahwa di masa kecilnya Chrisye pernah ditimpuk batu oleh anak-anak lain karena dia orang Cina. Sungguh, saya sedih membacanya.

Membaca buku ini, ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Tentang semangat mengejar harapan, tentang kerja keras, tentang keberanian menentukan pilihan atas masa depan, tentang kemauan mengikuti perkembangan zaman, tentang keharusan menghormati orang lain, dan tentu saja, tentang kesederhanaan.

Semoga saja kehadiran buku ini menggugah musisi Indonesia lainnya untuk mau berbagi pengalaman mereka dalam dunia musik lewat sebuah buku. Saya tak yakin bisa bercerita tentang Chrisye, Iwan Fals, God Bless, ataupun Ebiet G Ade secara lengkap kepada anak cucu saya kelak. Itulah mengapa perlu ada buku tentang mereka ini. Supaya jembatan antar generasi tetap ada.

************************************************

Meskipun orang Jawa, saya memanggil mereka Papa dan Mama. Papa saya pecinta Beatles, Queen, dan Bee Gees. Mama saya suka bernyanyi lagu-lagu khas “Tembang Kenangan” yang diputar di salah satu stasiun televisi swasta. Saya memuja Padi dan U2. Jembatan untuk selera musik kami bertiga adalah lagu-lagu milik Chrisye.

Tahun 2003, ketika saya bekerja sambilan sebagai penyiar di salah satu radio di Yogyakarta, saya mendapat kesempatan untuk ikut mewawancarai Chrisye dalam sebuah talkshow di radio tersebut. Saat itu, saya terpukau dengan kesederhanaan yang dia tunjukkan. Saya ingat, saat itu Chrisye memakai kaos berwarna hitam. Santai sekali. Ketika disinggung tentang kaos hitamnya, Chrisye sambil tertawa berkata bahwa untuk orang yang banyak beraktifitas, kaos hitam membuatnya tidak bisa ditebak apakah dia sudah mandi atau belum. Dan memang, saat itu saya tidak bisa menebaknya.

Dalam wawancara itu, gaya bicara Chrisye begitu halus, tenang, dan tidak ada kesan sombong. Tidak ada sama sekali. Saya, anak muda yang saat itu baru mulai kuliah, terpesona padanya. Untunglah orangtua saya termasuk penggemar Chrisye yang setia, sehingga sedikit banyak saya tahu tentang Chrisye. Dari Papalah saya bisa tahu lagu-lagu Chrisye, sedangkan dari Mama saya bisa tahu cerita tentang kehebatan film Badai Pasti Berlalu yang soundtracknya melegenda sampai hari ini. “Christine Hakim, Roy Marten, karo Slamet Raharjo kuwi apik maine. Opo maneh lagu-lagune. Wis, pokoke apik lah Nduk..”

Ketika televisi memberitakan meninggalnya Chrisye, Mama saya tak henti berkata “Lagune  Chrisye kuwi ora ono sing elek. Ora ono.”

           

Ya, memang tidak ada lagu Chrisye yang jelek. Satu lagu yang paling saya sukai dari Chrisye adalah Merepih Alam. Ada merinding yang terasa tiap mendengar kalimat “kunanti fajar berkawan angin malam..” Itu juga sebabnya, saya menggunakan kata “Menanti Fajar” untuk nama blog saya di Friendster. Awalnya, blog itu saya beri nama “Jejak Langkah”, saya ambil dari lagu milik Tohpati, “Jejak Langkah yang Kau Tinggal”. Ketika beberapa bulan yang lalu saya memutuskan untuk menghapus blog itu dan memulai sebuah blog yang baru, hanya satu nama yang terlintas. “Menanti Fajar”.

Selesai membaca buku ini, saya yakin untuk menyatakan persetujuan atas pendapat Mama saya tentang Chrisye. “Aurane bedo. Nyenengke disawang. Wong sing apik kuwi nyat iso ketok seka rupane..”

Sore Bersama Iman

April 2nd, 2007 by astrikusuma

Hari-hari ini kata “déjà vu” sering saya dengar dari seseorang. Dia bilang, rasanya ada kejadian yang berulang. Ngambeg yang berulang, cemburu yang berulang. Ah ya, saya memang kekanak-kanakan. Maaf.

Dan sore ini, saya mengalami kejadian yang berulang. Cerita seorang kawan lama tentang kebingungannya mencari bahan siaran membawa saya terbang ke masa lalu. Saya tidak perlu beli tiket. Tidak perlu naik pesawat. Dijamin aman sampai ke masa lalu, tanpa ada jaminan dari menteri perhubungan pun tidak masalah buat saya.

Namanya Iman Persada. Saya mengenalnya pertama kali sebagai kakak tingkat di Ilmu Hubungan Internasional UGM. Lebih mengenalnya lagi ketika kami sama-sama bekerja sebagai penyiar di Q Radio Jogja. Tak hanya itu, kami juga anggota Liaison Officer Sabayatsa. Dalam beberapa seleksi beasiswa, kami menjadi partner sekaligus rival. Partner, karena saya sering nebeng motor dia. Rival, karena kami bersaing. Begitulah Jogja, walau kita masuk di beberapa lingkungan, besar kemungkinan untuk bertemu orang yang itu-itu saja. Ya, tebakan anda benar, sekarang pun kami sekantor,lagi. Bedanya, dia masih menjadi penyiar radio, dan saya sudah tak lagi siaran hampir setahun yang lalu.

Sore ini, dia duduk menghadap salah satu meja di ruangan saya, kami berbincang tentang Chrisye. Tentang bingungnya dia ketika harus mencari materi untuk siaran yang membahas tentang Chrisye. Berita di internet pastilah banyak, namun ketika ada sebuah buku lengkap membahas berada dalam genggaman, kenapa tidak? Lalu, mengalirlah cerita tentang siarannya, sambil tangannya membolak-balik buku Chrisye Sebuah Memoar Musikal yang baru saya beli siang tadi di Toga Mas.

Cerita Iman begitu akrab dengan saya. Saya tahu rasanya, karena dulu saat saya masih siaran juga mengalami hal yang sama. Bingung mencari materi siaran yang menarik, bingung cara menyampaikannya dengan enak tanpa ada kesan menggurui. Gedubrakan lah pokoknya.

Ya, masa itu memang sudah lewat. Tapi, tak urung menggurat senyum ketika teringat untuk sesaat. Namanya kenangan.

Hari Iri Se-Indonesia

March 20th, 2007 by astrikusuma

Mungkin hari ini adalah Hari Iri Se-Indonesia. Pemicunya, berita di detik.com tentang 550 anggota DPR yang minta laptop seharga 21 juta rupiah untuk ”peningkatan kualitas kinerja”. Spesifikasi laptop 21 juta adalah sebagai berikut : layar 12 inch, 2 prosesor, dan beratnya tidak lebih dari 2 kg.

Jadi penasaran, memangnya anggota DPR butuh laptop semahal itu untuk mengerjakan apa saja? Bukankah biasanya software yang dipakai ya itu-itu saja alias keluarga besar Microsoft Office (Word, Excel, PowerPoint, dll)? Jadi, kenapa harus yang harganya 21 juta? Laptop seharga 7 jutaan pun sudah mampu melakukan itu semua.

Bukannya menyepelekan, tapi melihat mereka tertidur dalam rapat-rapat membuatku tidak yakin bahwa mereka layak mendapat laptop 21 juta itu. Memangnya bisa, tidur sambil ngetik?

Ups, tidak boleh iri! Bukankah ada kalimat populer, iri tanda tak mampu? Jadi, ya sudah. Harus semakin berhemat, rajin menabung, siapa tahu dalam pameran komputer Juni mendatang bisa mewujudkan mimpi punya laptop. Tak perlu yang 21 juta. Yang 4 juta atau 3 juta pun tak apa, yang penting kan fungsinya :)

Sekolah Lagi

March 13th, 2007 by astrikusuma

"Astri nggak pengen sekolah lagi?"

Mas Rachmat…

Mas Eric…

Pak Ido…

entah siapa lagi yang akan bertanya seperti itu…

Pada Sebuah Beranda

March 13th, 2007 by astrikusuma

Begitu banyak nama penulis-penulis terkenal dalam buku Riwayat Negeri yang Haru. Tapi, aku terpikat padanya. Bondan Winarno.

Yang paling kuingat dari Pak Bondan tentu saja kalimat "Mak Nyuss" nya itu..:) Tapi, aku baru tahu kalau Pak Bondan ternyata juga seorang penulis. http://id.wikipedia.org/wiki/Bondan_Winarno

Pada Sebuah Beranda. Cerpen yang indah. Sudah berapa kali kubaca cerpen itu? Aku tak tahu. Mungkin itu juga sebabnya, Riwayat Negeri yang Haru tak jua selesai kubaca. Mungkin, karena aku selalu mengulang membaca Pada Sebuah Beranda…

A Piece of Trash

March 6th, 2007 by astrikusuma

Nada bicaranya khas ketika berkata,

“Tell me, what’s missing in your life?”

Jeda beberapa detik, lalu dia memberi jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Bahwa hal yang dirasakan hilang dalam hidup kebanyakan wanita adalah :

Rasa cinta pada diri sendiri.

Ketika rasa cinta pada diri sendiri itu semakin menghilang,

Akan mulai menganggap diri sendiri sebagai “a piece of trash.”

A piece of trash…

Mungkin benar.

Mungkin.

Thanks Oprah

PS: I LOVE YOU

February 25th, 2007 by astrikusuma

Ketika aku pulang dari Semarang di sebuah malam, kutemui kau, ibu diplomat-ku, lewat sebuah keajaiban dunia bernama Yahoo Messenger. Tulisan-tulisanmu seperti biasanya, khas. Penuh pertimbangan.

Tahukah, kunikmati semua ceritamu sejak dulu. Tentang suka-duka tugas diplomatmu, tentang ps: i love you, tentang kepulanganmu ke Indonesia, tentang rencana pernikahanmu,  tentang kondisi kesehatanmu, tentang eneg-nya kamu makan mie hampir seminggu ketika terjebak banjir, dan banyak lagi.

Aku teringat awal kita berkenalan kurang lebih satu setengah atau dua tahun yang lalu. Ternyata Friendster mampu membuat hukum internasional tentang batas negara menjadi tak berarti ya, hehehe J Pesanmu waktu itu masih kusimpan sampai sekarang, lengkap dengan tulisan ”ps: i like your photoJ”. Kamu memang unik, seunik e-mail address yang kau pakai. Penggemar Beatles pastilah tersenyum sambil berkata ”Aha!”, jika membacanya :D

Sayang, keinginanku bertemu denganmu belum terlaksana sampai hari ini. Tes tahap kedua Deplu di PRJ, kucari kamu. Tak ketemu. Tes tahap ketiga Deplu di LIA jalan Pramuka, kucari kamu. Tak ketemu. Tes tahap empat Deplu di Pusdiklat Deplu, kucari kamu. Tak ketemu.Aku berhenti mencari, lebih tepatnya ”dihentikan oleh sebuah hasil seleksi”, hehehehe J Tapi aku berharap, suatu hari kita bisa bertemu. Mungkin, di acara pernikahanmu ?J

Ketika aku pulang dari Semarang di sebuah malam, kau pikat aku dengan tulisanmu…

”hatiku itu seperti kompleks perumahan.

setiap hubungan baik persahabatan ato pacaran

dilambangkan oleh satu rumah.

semakin baik, smakin dekat dengan balai kota

alias jantungku n kehidupanku.

rumah2 itu permanen

jadi yang bisa berpindah itu adalah orang2nya.

ada beberapa rumah dekat sekali dan berbagi taman dengan balai kota

itu adalah rumah2 tempat sahabat2ku bernaung.

dan mau tau siapa yang tinggal dibalai kota?

yang tinggal disana adalah laki2 yang bisa membuka pintunya”

INA

February 25th, 2007 by astrikusuma

Dalam pertandingan bulutangkis, INA itu singkatan dari Indonesia. Tak percaya? Lihatlah tulisan skor di pertandingan bulutangkis yang disiarkan di TV. Susi Susanti (INA). Ricky Soebagdja/ Rexy Mainaky (INA). Taufik Hidayat (INA).

Ina yang ini adalah alamanda.blogspot.com. Kunjungilah ia. Tulisannya tak membosankan untuk dibaca. Ina, kakak tingkat jaman kuliah di HI dahulu kala. Dia 98, aku 2001. Dia skripsi, aku baru mulai kuliah. Dia juga partner kerja di Q Radio.

Saat dia akan meninggalkan Jogja pasca kelulusannya, dijabatnya erat tanganku di parkiran Fisipol.

“Terimakasih Astri, kamu adalah partner yang menyenangkan..”

Sama-sama Na, aku banyak belajar dari kamu.

Tak kusangka, pilihan telah membawa Ina ke Bali. Ya, pilihan. Memilih tidak ke Jakarta, tapi Bali. Kadang, “ancaman”nya via YM masih terngiang di telingaku J

“Cobalah meninggalkan Jogja, dan kamu akan menyesal..”

Aku percaya, kalimat itu adalah tanda bahwa cintanya pada Jogja tak pernah luntur. Ketika pertengahan 2005 aku mengunjunginya di Ubud, semangatnya masih seperti yang kukenal. Terasa hangat di udara.

Ingatkah Na, kamu ajak aku berkeliling tempat kerjamu yang indah itu. Mengajakku berdiri di dekat sebuah jendela. Kamu bilang, pemandangan akan sangat bagus ketika padi masih ditanam. Sawah akan terlihat hijau. Tak apa Na, memandang warna kuning dan coklatnya sawah pasca dipanen tetap menyenangkan buatku. 

Na, boleh bertanya? Sampai hari ini aku masih bingung, bagaimana cara membuat skripsi di HI dengan topik tentang U2? Mesti bertapa di gunung mana untuk dapat ide segila itu? Apakah dosen pembimbingmu waktu itu Pak Rizal Panggabean? Karena aku tak bisa membayangkan ada dosen lain yang cocok “membimbingmu” selain beliau, hehehe :D Tidakkah kau berminat menerbitkan skripsimu menjadi sebuah buku? Terbitkanlah, aku akan dengan senang hati membelinya. (Tapi kalo mau dikasih gratisan gpp lho Na, bener! :p)

Na, aku lupa apa pernah kukatakan ini padamu. Jadi kuulang saja. Terimakasih, mengingatkanku untuk lulus. Walau kau mengingatkanku via YM, tapi rasanya tetap “mantap” kok Na. Tendangan maut versi Ina? :p

“Kamu sekarang kerja dimana?”

“Di radio. Sambil nunggu lulus. Nunggu skripsi selesai.”

“Astri, LULUS itu dikejar, bukan ditunggu!”

Na, beberapa hari yang lalu aku baca lagi buku tentang U2. Kok jadi kangen kamu ya?