Archive for February, 2007

PS: I LOVE YOU

Sunday, February 25th, 2007

Ketika aku pulang dari Semarang di sebuah malam, kutemui kau, ibu diplomat-ku, lewat sebuah keajaiban dunia bernama Yahoo Messenger. Tulisan-tulisanmu seperti biasanya, khas. Penuh pertimbangan.

Tahukah, kunikmati semua ceritamu sejak dulu. Tentang suka-duka tugas diplomatmu, tentang ps: i love you, tentang kepulanganmu ke Indonesia, tentang rencana pernikahanmu,  tentang kondisi kesehatanmu, tentang eneg-nya kamu makan mie hampir seminggu ketika terjebak banjir, dan banyak lagi.

Aku teringat awal kita berkenalan kurang lebih satu setengah atau dua tahun yang lalu. Ternyata Friendster mampu membuat hukum internasional tentang batas negara menjadi tak berarti ya, hehehe J Pesanmu waktu itu masih kusimpan sampai sekarang, lengkap dengan tulisan ”ps: i like your photoJ”. Kamu memang unik, seunik e-mail address yang kau pakai. Penggemar Beatles pastilah tersenyum sambil berkata ”Aha!”, jika membacanya :D

Sayang, keinginanku bertemu denganmu belum terlaksana sampai hari ini. Tes tahap kedua Deplu di PRJ, kucari kamu. Tak ketemu. Tes tahap ketiga Deplu di LIA jalan Pramuka, kucari kamu. Tak ketemu. Tes tahap empat Deplu di Pusdiklat Deplu, kucari kamu. Tak ketemu.Aku berhenti mencari, lebih tepatnya ”dihentikan oleh sebuah hasil seleksi”, hehehehe J Tapi aku berharap, suatu hari kita bisa bertemu. Mungkin, di acara pernikahanmu ?J

Ketika aku pulang dari Semarang di sebuah malam, kau pikat aku dengan tulisanmu…

”hatiku itu seperti kompleks perumahan.

setiap hubungan baik persahabatan ato pacaran

dilambangkan oleh satu rumah.

semakin baik, smakin dekat dengan balai kota

alias jantungku n kehidupanku.

rumah2 itu permanen

jadi yang bisa berpindah itu adalah orang2nya.

ada beberapa rumah dekat sekali dan berbagi taman dengan balai kota

itu adalah rumah2 tempat sahabat2ku bernaung.

dan mau tau siapa yang tinggal dibalai kota?

yang tinggal disana adalah laki2 yang bisa membuka pintunya”

INA

Sunday, February 25th, 2007

Dalam pertandingan bulutangkis, INA itu singkatan dari Indonesia. Tak percaya? Lihatlah tulisan skor di pertandingan bulutangkis yang disiarkan di TV. Susi Susanti (INA). Ricky Soebagdja/ Rexy Mainaky (INA). Taufik Hidayat (INA).

Ina yang ini adalah alamanda.blogspot.com. Kunjungilah ia. Tulisannya tak membosankan untuk dibaca. Ina, kakak tingkat jaman kuliah di HI dahulu kala. Dia 98, aku 2001. Dia skripsi, aku baru mulai kuliah. Dia juga partner kerja di Q Radio.

Saat dia akan meninggalkan Jogja pasca kelulusannya, dijabatnya erat tanganku di parkiran Fisipol.

“Terimakasih Astri, kamu adalah partner yang menyenangkan..”

Sama-sama Na, aku banyak belajar dari kamu.

Tak kusangka, pilihan telah membawa Ina ke Bali. Ya, pilihan. Memilih tidak ke Jakarta, tapi Bali. Kadang, “ancaman”nya via YM masih terngiang di telingaku J

“Cobalah meninggalkan Jogja, dan kamu akan menyesal..”

Aku percaya, kalimat itu adalah tanda bahwa cintanya pada Jogja tak pernah luntur. Ketika pertengahan 2005 aku mengunjunginya di Ubud, semangatnya masih seperti yang kukenal. Terasa hangat di udara.

Ingatkah Na, kamu ajak aku berkeliling tempat kerjamu yang indah itu. Mengajakku berdiri di dekat sebuah jendela. Kamu bilang, pemandangan akan sangat bagus ketika padi masih ditanam. Sawah akan terlihat hijau. Tak apa Na, memandang warna kuning dan coklatnya sawah pasca dipanen tetap menyenangkan buatku. 

Na, boleh bertanya? Sampai hari ini aku masih bingung, bagaimana cara membuat skripsi di HI dengan topik tentang U2? Mesti bertapa di gunung mana untuk dapat ide segila itu? Apakah dosen pembimbingmu waktu itu Pak Rizal Panggabean? Karena aku tak bisa membayangkan ada dosen lain yang cocok “membimbingmu” selain beliau, hehehe :D Tidakkah kau berminat menerbitkan skripsimu menjadi sebuah buku? Terbitkanlah, aku akan dengan senang hati membelinya. (Tapi kalo mau dikasih gratisan gpp lho Na, bener! :p)

Na, aku lupa apa pernah kukatakan ini padamu. Jadi kuulang saja. Terimakasih, mengingatkanku untuk lulus. Walau kau mengingatkanku via YM, tapi rasanya tetap “mantap” kok Na. Tendangan maut versi Ina? :p

“Kamu sekarang kerja dimana?”

“Di radio. Sambil nunggu lulus. Nunggu skripsi selesai.”

“Astri, LULUS itu dikejar, bukan ditunggu!”

Na, beberapa hari yang lalu aku baca lagi buku tentang U2. Kok jadi kangen kamu ya?

Tak Pernah Ada Jaminan

Friday, February 23rd, 2007

Tak pernah ada jaminan hidup bahagia sampai akhir masa.

Tak pernah ada jaminan kapan penantian bertemu kata ”selesai”,

karena memang semua baru saja dimulai.

Tapi, itu tak mengapa.

Aku terima.

Yang penting, perjuangan untuk melakukan yang terbaik itu selalu ada…

Aku percaya.

Aku tunggu.

Kembali Pada Sabayatsa

Thursday, February 22nd, 2007

Besok, InsyaAllah kembali bekerja untuk Sabayatsa, komunitas Liaison Officer di Jogja. Walau hanya sehari, itu sudah cukup untukku. Sungguh :)

Tadi pagi, Dimas membuka pagiku dengan SMS nya.

"Astri, besok pagi kita kerja bareng lagi :)"

Lagi. Ya, lagi. Kapan terakhir aku menjadi LO? Setengah tahun yang lalu? Hhhh….rinduku memuncak kepada mereka, rekan-rekan seperjuangan di Sabayatsa :)

Mas Affi dan Mas Iman, terimakasih, menawarkan lagi padaku menjadi LO saat weekend. Harap maklum, aku terikat di satu tempat pada hari kerja :)

Jadi, mari menunggu besok, bertemu mereka, rekan-rekanku…berbagi canda, tawa, cerita..:)

Menanti Fajar Berkawan Angin Malam

Tuesday, February 20th, 2007

Kata Wiejil, "Masih nunggu fajar?"

Kata Pak Nizar,"Sejak kapan angin malem sama mas fajar musuhan, semoga cepet baekan ya"

Kataku, "Iya, aku masih menunggu fajar."

Mau ketemu fajar? Dengarkan saja Merepih Alam. Kalau belum pernah dengar lagunya, nonton saja Badai Pasti Berlalu, siapa tahu lagunya muncul. Kalau nggak muncul juga, sudahlah, beli saja album soundtrack filmnya :) Terus, kalau nggak sempat nonton filmnya di bioskop, sabar, tunggu saja sampai VCD nya keluar, hehehe :p

************************************************************************************************* merepih alam dimalam berselubung kabut kelam wajah pun meredup tercermin haus cahaya meremang gulana menatap reruntuhan dalam duka kunanti fajar berkawan angin malam… ************************************************************************************************* sekarang, ini dia cuplikan dari News Musik (http://www.newsmusik.net/topikita/tk04-01.html)

Lirik Lagu Bikin Laku Newsmusik Edisi 04 / 2001 – Nini Sunny, Gideon Momongan & Bens Leo

Lirik berfungsi sebagai roh sebuah nyanyian. Ia bisa menyuarakan cinta yang mengharu biru, atau bisa pula berisi protes dan kontrol sosial. Topikita kali ini bicara proses kreatif lahirnya sebuah lirik dari jaman ke jaman. Lalu, bagaimana dengan sukses Reborn yang langka lirik itu?

Orang awam bilang, sebuah lagu cinta bisa menyentuh perasaan, apabila liriknya bercerita tentang kisah yang mirip dengan persoalan yang pernah mereka rasakan. Banyak lagu yang laku dan menjadi hits saat ini memakai konsep pembuatan lirik macam itu. Di antaranya Dewa, Sheila on 7, Padi, Melly Goeslaw, KLa Project & Katon Bagaskara, Jamrud, PAS Band dan lain-lain.

Namun, ada hal unik jika kita mengamati soal lirik cinta dari jaman ke jaman. Terasa ada pola penulisan ekspresi perasaan yang berubah, sesuai etika dan estetika sebuah jaman. Lagu cinta tahun 1945, terasa sangat santun, penuh personifikasi alias perumpamaan (perlambang), misalnya alam dan rembulan menjadi saksi sumpah setia. Pola penulisan ini masih berlanjut sampai era Titiek Puspa, Titiek Hamzah dan Eros Djarot produktif menulis lagu di tahun 1977 untuk album Badai Pasti Berlalu (BPB).

Eros pantas dicatat tersendiri, karena pola pemilihan kata dalam liriknya, terasa sangat puitis. Ambil contoh lagu ‘Merepih Alam’ yang berbunyi; //Merepih alam, di malam// Berselubung kabut kelam// Wajah pun meredup tercermin haus cahaya// Meremang gulana menatap reruntuhan dalam duka//

Ketika album BPB dirilis, sempat muncul istilah, bahasa Indonesia yang dipilih Eros ‘ketinggian’ untuk ukuran penggunaan bahasa jaman itu. Bahkan bisa jadi sampai hari ini pun, predikat itu belum lagi luntur. Kepintaran Eros kemudian jadi fenomena sejarah penulisan lirik lagu pop. Terutama setelah album BPD masih tetap dicari orang hingga hari ini, pun ketika album itu direproduksi Chrisye dan Erwin Gutawa. Tak ada kesan penggunaan kata yang ‘basi’ . Padahal itu diciptakan 23 tahun lewat.

Dalam sampul kaset BDB versi baru Chrisye menulis, “Karya yang indah tidak akan pernah lekang dimakan jaman. Ia akan tetap dapat memenuhi kebutuhan estetika batin manusia, meskipun dinikmati dan diapresiasi berpuluh tahun setelah lahirnya karya tersebut, serta oleh kelompok penikmat yang berbeda.”

Berpayung di Bawah Gerimis

Tuesday, February 20th, 2007

Pagi ini, jam 7 kurang seperempat, berangkat ke kantor dengan berpayung di bawah gerimis. Menunggu bis di perempatan Kentungan untuk beberapa waktu. Ketika bis jalur 7 datang, perjalanan ke masa lalu dimulai….

Menyusuri Jalan Kaliurang (berapa ribu kali kulewati jalan ini?), memandang ke kanan dan ke kiri. Orang-orang nikmat dengan sarapan gudeg atau nasi kuning-nya. Lalu lintas mulai padat walau gerimis, tapi "aroma" Jogja tetap kental..sangat kental…

Di dalam bis, mahasiswa sibuk dengan bahan-bahan kuliah mereka (jadi ingat jaman kuliah, tiap akan ujian atau kuis pastilah pemandangan begini sangat biasa dalam bis:p). Aku baru sadar, ini memang jamnya mahasiswa pergi ke kampus! Jadi ingin turun di FISIPOL saja, lalu ke lobby, menghirup udara bersih diantara rindangnya halaman FISIPOL… Sayangnya, tak bisa begitu :)

Ketika sampai di perempatan MM, macet mulai terjadi. 3 kali lampu merah, barulah bisa belok ke kanan, Jl. Teknika Utara. Memandang ke kanan, ada MM UGM (jadi ingat Dana..), lalu MEP (tempat Pak Tatwo mengajar), lanjut ke jembatan McD (jembatan bagus dengan 2 lengkung di atasnya seperti logo McD), melewati fakultas teknik, rumah sakit sardjito, belok ke kiri, ikuti jalan, lalu turun di depan FKG UGM. Pandang ke depan, itu kantorku.

Baiklah, perjalanan ke masa lalu sampai di sini dulu…Mari bekerja..:)

Sekedar Menulis

Tuesday, February 20th, 2007

Sekedar menulis….