Menanti Fajar Berkawan Angin Malam
Kata Wiejil, "Masih nunggu fajar?"
Kata Pak Nizar,"Sejak kapan angin malem sama mas fajar musuhan, semoga cepet baekan ya"
Kataku, "Iya, aku masih menunggu fajar."
Mau ketemu fajar? Dengarkan saja Merepih Alam. Kalau belum pernah dengar lagunya, nonton saja Badai Pasti Berlalu, siapa tahu lagunya muncul. Kalau nggak muncul juga, sudahlah, beli saja album soundtrack filmnya
Terus, kalau nggak sempat nonton filmnya di bioskop, sabar, tunggu saja sampai VCD nya keluar, hehehe :p
************************************************************************************************* merepih alam dimalam berselubung kabut kelam wajah pun meredup tercermin haus cahaya meremang gulana menatap reruntuhan dalam duka kunanti fajar berkawan angin malam… ************************************************************************************************* sekarang, ini dia cuplikan dari News Musik (http://www.newsmusik.net/topikita/tk04-01.html)
Lirik Lagu Bikin Laku Newsmusik Edisi 04 / 2001 – Nini Sunny, Gideon Momongan & Bens Leo
Lirik berfungsi sebagai roh sebuah nyanyian. Ia bisa menyuarakan cinta yang mengharu biru, atau bisa pula berisi protes dan kontrol sosial. Topikita kali ini bicara proses kreatif lahirnya sebuah lirik dari jaman ke jaman. Lalu, bagaimana dengan sukses Reborn yang langka lirik itu?
Orang awam bilang, sebuah lagu cinta bisa menyentuh perasaan, apabila liriknya bercerita tentang kisah yang mirip dengan persoalan yang pernah mereka rasakan. Banyak lagu yang laku dan menjadi hits saat ini memakai konsep pembuatan lirik macam itu. Di antaranya Dewa, Sheila on 7, Padi, Melly Goeslaw, KLa Project & Katon Bagaskara, Jamrud, PAS Band dan lain-lain.
Namun, ada hal unik jika kita mengamati soal lirik cinta dari jaman ke jaman. Terasa ada pola penulisan ekspresi perasaan yang berubah, sesuai etika dan estetika sebuah jaman. Lagu cinta tahun 1945, terasa sangat santun, penuh personifikasi alias perumpamaan (perlambang), misalnya alam dan rembulan menjadi saksi sumpah setia. Pola penulisan ini masih berlanjut sampai era Titiek Puspa, Titiek Hamzah dan Eros Djarot produktif menulis lagu di tahun 1977 untuk album Badai Pasti Berlalu (BPB).
Eros pantas dicatat tersendiri, karena pola pemilihan kata dalam liriknya, terasa sangat puitis. Ambil contoh lagu ‘Merepih Alam’ yang berbunyi; //Merepih alam, di malam// Berselubung kabut kelam// Wajah pun meredup tercermin haus cahaya// Meremang gulana menatap reruntuhan dalam duka//
Ketika album BPB dirilis, sempat muncul istilah, bahasa Indonesia yang dipilih Eros ‘ketinggian’ untuk ukuran penggunaan bahasa jaman itu. Bahkan bisa jadi sampai hari ini pun, predikat itu belum lagi luntur. Kepintaran Eros kemudian jadi fenomena sejarah penulisan lirik lagu pop. Terutama setelah album BPD masih tetap dicari orang hingga hari ini, pun ketika album itu direproduksi Chrisye dan Erwin Gutawa. Tak ada kesan penggunaan kata yang ‘basi’ . Padahal itu diciptakan 23 tahun lewat.
Dalam sampul kaset BDB versi baru Chrisye menulis, “Karya yang indah tidak akan pernah lekang dimakan jaman. Ia akan tetap dapat memenuhi kebutuhan estetika batin manusia, meskipun dinikmati dan diapresiasi berpuluh tahun setelah lahirnya karya tersebut, serta oleh kelompok penikmat yang berbeda.”
February 25th, 2007 at 4:24 pm
Copy paste komentarnya Wiejil, yang selalu gagal dikirim..hehehe..:)
“hahaha,…saya kira nama saya dicatut buat apa-an…hihihi…yo wis, lega deh saya, belum membahayakan hidup kok catutanya…hihi
tapi, ngemeng2, saya kok ga tau lagunya ya?he…
ok, slamat nge-blog deh!! kapan2 mampir juga ke blog saya yg ga mutu ya, kalo udah ga ada kerjaan bgt gitu..hehehehe”