Chrisye : Semangat Mengejar Harapan
Judul : Chrisye Sebuah Memoar Musikal
Penulis : Alberthiene Endah
Penerbiat : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2007 (Cetakan I)
Halaman : 373 halaman
Seorang penyanyi legendaris seperti Chrisye tentu punya banyak penggemar. Mulai dari yang sekarang sudah jadi kakek nenek sampai yang baru berusia duapuluhan. Ya, kita kenal lagu-lagunya dan bisa menyanyikannya. Ya, kita juga tahu soundtrack “Badai Pasti Berlalu” sangat menggetarkan, tapi bagaimana proses pembuatannya? Bagaimana pula awal Chrisye berkenalan dengan James F Sundah yang berujung dengan kepopuleran lagu Lilin-Lilin Kecil? Lantas, bagaimana persiapan Chrisye menjelang konser “Sendiri” tahun 2004? Gugup? Kuatir? Atau justru percaya diri? Bukankah itu konser pertama yang digelar penyanyi Indonesia di Plenary Hall?
Chrisye Sebuah Memoar Musikal adalah jawabannya. Bukan biografi, melainkan sebuah memoar musikal. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Chrisye. “Saya akan mengungkapkan apa yang perlu diketahui orang tentang semangat bermusik. Hidup saya menyimpan banyak pengalaman musikal, yang selama ini saya simpan sendiri. Lewat buku ini, saya ingin orang bisa belajar tentang semangat mengejar harapan. Bukan hanya karena ingin tahu hidup saya seperti apa.”(halaman 9). Semangat mengejar harapan yang menjadi kata kunci dari buku ini seolah menunjukkan semangat Chrisye untuk terus berjuang walau saat buku ini ditulis dia dalam kondisi sakit.
Penghargaan khusus juga perlu diberikan pada penulis buku ini, Alberthiene Endah. Kalimat-kalimatnya mengalir lancar, membuat buku ini begitu nyaman untuk dibaca. Tak ingin berhenti sebelum mencapai halaman terakhir. Cara Alberthiene menyampaikan momen penting dalam perjalanan musikal Chrisye sangat menyentuh. Misalnya saja pada bagian ketika Chrisye menemukan “suara aslinya”!
“Selama masa vakum itu, saya mulai mengutak-atik kertas. Menciptakan lirik, mencoba membuat notasi. Menyenandungkan melodi ciptaan saya. Dalam kesendirian itu, sesuatu yang ajaib terjadi. Yang biasanya saya terbiasa menyamakan cengkok suara seperti penyanyi asli lagu yang saya nyanyikan, kali ini saya terkesima dengan suara asli saya! Apa yang saya rasakan? Saya mendengar suara yang halus, lembut, empuk. Itu suara saya yang sesungguhnya”.
Tidak hanya itu, buku ini juga dilengkapi cerita dibalik pembuatan album-album Chrisye. Mulai tentang penulisan lagunya, musisi yang bekerjasama dengannya, sampai tentang sampul albumnya! Hebatnya Chrisye, dia mau mengambil pembelajaran dari setiap album yang telah dia luncurkan. Meledak atau tidaknya sebuah album yang dilempar ke pasaran adalah hal biasa yang harus bisa dihadapi oleh setiap penyanyi. Yang penting adalah bagaimana menyikapinya. Apakah akan berusaha lebih baik di album berikutnya atau justru memilih mundur teratur. Uniknya, dalam buku ini Chrisye memberi saran bagi setiap musisi untuk tetap bertahan sampai di album kelima. “Jika kegagalan terus muncul sampai di album kelima, barulah dipertimbangkan, apakah album selanjutnya perlu dibuat lagi. Kalau perlu, buat strategi yang benar-benar baru.”
Kemampuan menganalisis kemauan pasar juga menjadi sebuah modal besar bagi Chrisye untuk terus bertahan selama beberapa dekade. Gaya Chrisye ketika di atas panggung boleh “begitu-begitu saja”, tapi tidak dengan albumnya. Selalu mengandung inovasi. Selalu ada yang baru. Contohnya, membuat album berformat akustik di tahun 1996 yaitu “AkustiChrisye”. Selain itu, Chrisye juga bekerjasama dengan penyanyi lain seperti Waljinah, Peterpan, ataupun Sophia Latjuba.
Lantas, diantara begitu banyak lagu yang telah dinyanyikan oleh Chrisye, adakah yang mendapat predikat “lagu tersulit untuk dinyanyikan?” Jawabannya, ada! Ketika Tangan dan Kaki Berkata, sebuah lagu tentang hari akhir, yang liriknya ditulis oleh sastrawan Taufik Ismail. Saat proses rekaman, Chrisye hanya sanggup menyanyikan lagu ini sekali, selanjutnya, menangis.
Begitulah, sebaikya Anda baca sendiri buku ini. Banyak cerita di dalamnya, sangat banyak. Kalaupun ada bagian dalam buku ini yng membuat saya sedih, itu adalah ketika saya membaca bahwa di masa kecilnya Chrisye pernah ditimpuk batu oleh anak-anak lain karena dia orang Cina. Sungguh, saya sedih membacanya.
Membaca buku ini, ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Tentang semangat mengejar harapan, tentang kerja keras, tentang keberanian menentukan pilihan atas masa depan, tentang kemauan mengikuti perkembangan zaman, tentang keharusan menghormati orang lain, dan tentu saja, tentang kesederhanaan.
Semoga saja kehadiran buku ini menggugah musisi Indonesia lainnya untuk mau berbagi pengalaman mereka dalam dunia musik lewat sebuah buku. Saya tak yakin bisa bercerita tentang Chrisye, Iwan Fals, God Bless, ataupun Ebiet G Ade secara lengkap kepada anak cucu saya kelak. Itulah mengapa perlu ada buku tentang mereka ini. Supaya jembatan antar generasi tetap ada.
************************************************
Meskipun orang Jawa, saya memanggil mereka Papa dan Mama. Papa saya pecinta Beatles, Queen, dan Bee Gees. Mama saya suka bernyanyi lagu-lagu khas “Tembang Kenangan” yang diputar di salah satu stasiun televisi swasta. Saya memuja Padi dan U2. Jembatan untuk selera musik kami bertiga adalah lagu-lagu milik Chrisye.
Tahun 2003, ketika saya bekerja sambilan sebagai penyiar di salah satu radio di Yogyakarta, saya mendapat kesempatan untuk ikut mewawancarai Chrisye dalam sebuah talkshow di radio tersebut. Saat itu, saya terpukau dengan kesederhanaan yang dia tunjukkan. Saya ingat, saat itu Chrisye memakai kaos berwarna hitam. Santai sekali. Ketika disinggung tentang kaos hitamnya, Chrisye sambil tertawa berkata bahwa untuk orang yang banyak beraktifitas, kaos hitam membuatnya tidak bisa ditebak apakah dia sudah mandi atau belum. Dan memang, saat itu saya tidak bisa menebaknya.
Dalam wawancara itu, gaya bicara Chrisye begitu halus, tenang, dan tidak ada kesan sombong. Tidak ada sama sekali. Saya, anak muda yang saat itu baru mulai kuliah, terpesona padanya. Untunglah orangtua saya termasuk penggemar Chrisye yang setia, sehingga sedikit banyak saya tahu tentang Chrisye. Dari Papalah saya bisa tahu lagu-lagu Chrisye, sedangkan dari Mama saya bisa tahu cerita tentang kehebatan film Badai Pasti Berlalu yang soundtracknya melegenda sampai hari ini. “Christine Hakim, Roy Marten, karo Slamet Raharjo kuwi apik maine. Opo maneh lagu-lagune. Wis, pokoke apik lah Nduk..”
Ketika televisi memberitakan meninggalnya Chrisye, Mama saya tak henti berkata “Lagune Chrisye kuwi ora ono sing elek. Ora ono.”
Ya, memang tidak ada lagu Chrisye yang jelek. Satu lagu yang paling saya sukai dari Chrisye adalah Merepih Alam. Ada merinding yang terasa tiap mendengar kalimat “kunanti fajar berkawan angin malam..” Itu juga sebabnya, saya menggunakan kata “Menanti Fajar” untuk nama blog saya di Friendster. Awalnya, blog itu saya beri nama “Jejak Langkah”, saya ambil dari lagu milik Tohpati, “Jejak Langkah yang Kau Tinggal”. Ketika beberapa bulan yang lalu saya memutuskan untuk menghapus blog itu dan memulai sebuah blog yang baru, hanya satu nama yang terlintas. “Menanti Fajar”.
Selesai membaca buku ini, saya yakin untuk menyatakan persetujuan atas pendapat Mama saya tentang Chrisye. “Aurane bedo. Nyenengke disawang. Wong sing apik kuwi nyat iso ketok seka rupane..”
May 12th, 2007 at 9:45 am
hi…ini sama harry di bandung kalo kamu suka lagu chrisye yang judulnya merepih alam…emang enak kok…kebetulan aku udah mindahin lagu dari sountrack film Badai Pasti Berlalu…yg gambar cover nya christine Hakim lagi lari warna hijau …aku sendiri udah 4 kali beli kaset itu dan lagi2 hilang…tapi sempet di pindahkan ke mp3…tapi sayang lagu merpati putih dan badai pasti berlalu nya nggak sempet di pindahin ke mp3…dan keburu hilang…huuhh..kalo mau versi asli (lama) aku mau kirim ke astri ato send message…nasgor2004@yahoo.com..ato
ke http:// http://www.frienster.com/nasgor2004
May 12th, 2007 at 9:51 am
tapi maaf yah…kalo suaranya nggak sebagus kalo dari kasetnya langsung…baru belajar edit mp3…aku sendiri pertama punya dari kakaku…waktu masih berseragam merah putih…heheheh..trus beli lagi waktu berseragam biru putih…trus beli lagi berseragam abu-abu putih…trus beli lagi waktu kuliah…dan semuanya entah kemana..aduuuh jorok banget sih…maaf…aku juga suka lagu2 LCLR Prambors..1978…kamu suka nggak…
June 7th, 2007 at 2:38 am
halo Harry, makasih banget ya dah dikasih lagunya..bagus kok
December 21st, 2008 at 9:00 am
Hey, i save funny photos
here
December 31st, 2008 at 9:31 pm
Bite my shiny metal ass, assholes, you were joked!