Sore Bersama Iman
Hari-hari ini kata “déjà vu” sering saya dengar dari seseorang. Dia bilang, rasanya ada kejadian yang berulang. Ngambeg yang berulang, cemburu yang berulang. Ah ya, saya memang kekanak-kanakan. Maaf.
Dan sore ini, saya mengalami kejadian yang berulang. Cerita seorang kawan lama tentang kebingungannya mencari bahan siaran membawa saya terbang ke masa lalu. Saya tidak perlu beli tiket. Tidak perlu naik pesawat. Dijamin aman sampai ke masa lalu, tanpa ada jaminan dari menteri perhubungan pun tidak masalah buat saya.
Namanya Iman Persada. Saya mengenalnya pertama kali sebagai kakak tingkat di Ilmu Hubungan Internasional UGM. Lebih mengenalnya lagi ketika kami sama-sama bekerja sebagai penyiar di Q Radio Jogja. Tak hanya itu, kami juga anggota Liaison Officer Sabayatsa. Dalam beberapa seleksi beasiswa, kami menjadi partner sekaligus rival. Partner, karena saya sering nebeng motor dia. Rival, karena kami bersaing. Begitulah Jogja, walau kita masuk di beberapa lingkungan, besar kemungkinan untuk bertemu orang yang itu-itu saja. Ya, tebakan anda benar, sekarang pun kami sekantor,lagi. Bedanya, dia masih menjadi penyiar radio, dan saya sudah tak lagi siaran hampir setahun yang lalu.
Sore ini, dia duduk menghadap salah satu meja di ruangan saya, kami berbincang tentang Chrisye. Tentang bingungnya dia ketika harus mencari materi untuk siaran yang membahas tentang Chrisye. Berita di internet pastilah banyak, namun ketika ada sebuah buku lengkap membahas berada dalam genggaman, kenapa tidak? Lalu, mengalirlah cerita tentang siarannya, sambil tangannya membolak-balik buku Chrisye Sebuah Memoar Musikal yang baru saya beli siang tadi di Toga Mas.
Cerita Iman begitu akrab dengan saya. Saya tahu rasanya, karena dulu saat saya masih siaran juga mengalami hal yang sama. Bingung mencari materi siaran yang menarik, bingung cara menyampaikannya dengan enak tanpa ada kesan menggurui. Gedubrakan lah pokoknya.
Ya, masa itu memang sudah lewat. Tapi, tak urung menggurat senyum ketika teringat untuk sesaat. Namanya kenangan.
April 3rd, 2007 at 7:42 pm
Blink..
Blink…
Waduh , apakah karena dengan Iman ya jalan ceritamu memakai bahasa yang baku.
Namanya juga kenangan.
;P;D
April 4th, 2007 at 2:13 am
hehehehe..baku sekali kah bahasaku? waduh, mungkin karena terlalu sering ngetik surat yang “resmi-resmi” ya..:D ayo, kapan ni janjian ngopi bersama akan diwujudkan?