Lapangan Bulutangkis Sebelah Rumah
Sejak kecil aku sudah terbiasa mendengar berbagai suara dari lapangan itu. Sorak sorai penonton saat pertandingan tujuh belasan, sampai tangis pemain tunggal putri dari RT sebelah ketika kalah rubber set dengan selisih hanya dua angka di set ketiga. Kasihan sekali. Padahal parasnya manis. Sayang urusan wajah tak berpengaruh dalam hal tepok bulu angsa. Selengkapnya…
August 4th, 2007 at 11:28 am
wah… ternyata aku baru tau kalo tulisan-tulisanmu keren-keren banget ya…
keep on writing ya…
August 7th, 2007 at 7:42 pm
makasih mas Ricky..tulisanmu juga bagus kok..aku suka tulisanmu yang tentang hidup alumnus HI