Tak Pernah Ada Jaminan

February 23rd, 2007 by astrikusuma

Tak pernah ada jaminan hidup bahagia sampai akhir masa.

Tak pernah ada jaminan kapan penantian bertemu kata ”selesai”,

karena memang semua baru saja dimulai.

Tapi, itu tak mengapa.

Aku terima.

Yang penting, perjuangan untuk melakukan yang terbaik itu selalu ada…

Aku percaya.

Aku tunggu.

Kembali Pada Sabayatsa

February 22nd, 2007 by astrikusuma

Besok, InsyaAllah kembali bekerja untuk Sabayatsa, komunitas Liaison Officer di Jogja. Walau hanya sehari, itu sudah cukup untukku. Sungguh :)

Tadi pagi, Dimas membuka pagiku dengan SMS nya.

"Astri, besok pagi kita kerja bareng lagi :)"

Lagi. Ya, lagi. Kapan terakhir aku menjadi LO? Setengah tahun yang lalu? Hhhh….rinduku memuncak kepada mereka, rekan-rekan seperjuangan di Sabayatsa :)

Mas Affi dan Mas Iman, terimakasih, menawarkan lagi padaku menjadi LO saat weekend. Harap maklum, aku terikat di satu tempat pada hari kerja :)

Jadi, mari menunggu besok, bertemu mereka, rekan-rekanku…berbagi canda, tawa, cerita..:)

Menanti Fajar Berkawan Angin Malam

February 20th, 2007 by astrikusuma

Kata Wiejil, "Masih nunggu fajar?"

Kata Pak Nizar,"Sejak kapan angin malem sama mas fajar musuhan, semoga cepet baekan ya"

Kataku, "Iya, aku masih menunggu fajar."

Mau ketemu fajar? Dengarkan saja Merepih Alam. Kalau belum pernah dengar lagunya, nonton saja Badai Pasti Berlalu, siapa tahu lagunya muncul. Kalau nggak muncul juga, sudahlah, beli saja album soundtrack filmnya :) Terus, kalau nggak sempat nonton filmnya di bioskop, sabar, tunggu saja sampai VCD nya keluar, hehehe :p

************************************************************************************************* merepih alam dimalam berselubung kabut kelam wajah pun meredup tercermin haus cahaya meremang gulana menatap reruntuhan dalam duka kunanti fajar berkawan angin malam… ************************************************************************************************* sekarang, ini dia cuplikan dari News Musik (http://www.newsmusik.net/topikita/tk04-01.html)

Lirik Lagu Bikin Laku Newsmusik Edisi 04 / 2001 – Nini Sunny, Gideon Momongan & Bens Leo

Lirik berfungsi sebagai roh sebuah nyanyian. Ia bisa menyuarakan cinta yang mengharu biru, atau bisa pula berisi protes dan kontrol sosial. Topikita kali ini bicara proses kreatif lahirnya sebuah lirik dari jaman ke jaman. Lalu, bagaimana dengan sukses Reborn yang langka lirik itu?

Orang awam bilang, sebuah lagu cinta bisa menyentuh perasaan, apabila liriknya bercerita tentang kisah yang mirip dengan persoalan yang pernah mereka rasakan. Banyak lagu yang laku dan menjadi hits saat ini memakai konsep pembuatan lirik macam itu. Di antaranya Dewa, Sheila on 7, Padi, Melly Goeslaw, KLa Project & Katon Bagaskara, Jamrud, PAS Band dan lain-lain.

Namun, ada hal unik jika kita mengamati soal lirik cinta dari jaman ke jaman. Terasa ada pola penulisan ekspresi perasaan yang berubah, sesuai etika dan estetika sebuah jaman. Lagu cinta tahun 1945, terasa sangat santun, penuh personifikasi alias perumpamaan (perlambang), misalnya alam dan rembulan menjadi saksi sumpah setia. Pola penulisan ini masih berlanjut sampai era Titiek Puspa, Titiek Hamzah dan Eros Djarot produktif menulis lagu di tahun 1977 untuk album Badai Pasti Berlalu (BPB).

Eros pantas dicatat tersendiri, karena pola pemilihan kata dalam liriknya, terasa sangat puitis. Ambil contoh lagu ‘Merepih Alam’ yang berbunyi; //Merepih alam, di malam// Berselubung kabut kelam// Wajah pun meredup tercermin haus cahaya// Meremang gulana menatap reruntuhan dalam duka//

Ketika album BPB dirilis, sempat muncul istilah, bahasa Indonesia yang dipilih Eros ‘ketinggian’ untuk ukuran penggunaan bahasa jaman itu. Bahkan bisa jadi sampai hari ini pun, predikat itu belum lagi luntur. Kepintaran Eros kemudian jadi fenomena sejarah penulisan lirik lagu pop. Terutama setelah album BPD masih tetap dicari orang hingga hari ini, pun ketika album itu direproduksi Chrisye dan Erwin Gutawa. Tak ada kesan penggunaan kata yang ‘basi’ . Padahal itu diciptakan 23 tahun lewat.

Dalam sampul kaset BDB versi baru Chrisye menulis, “Karya yang indah tidak akan pernah lekang dimakan jaman. Ia akan tetap dapat memenuhi kebutuhan estetika batin manusia, meskipun dinikmati dan diapresiasi berpuluh tahun setelah lahirnya karya tersebut, serta oleh kelompok penikmat yang berbeda.”

Berpayung di Bawah Gerimis

February 20th, 2007 by astrikusuma

Pagi ini, jam 7 kurang seperempat, berangkat ke kantor dengan berpayung di bawah gerimis. Menunggu bis di perempatan Kentungan untuk beberapa waktu. Ketika bis jalur 7 datang, perjalanan ke masa lalu dimulai….

Menyusuri Jalan Kaliurang (berapa ribu kali kulewati jalan ini?), memandang ke kanan dan ke kiri. Orang-orang nikmat dengan sarapan gudeg atau nasi kuning-nya. Lalu lintas mulai padat walau gerimis, tapi "aroma" Jogja tetap kental..sangat kental…

Di dalam bis, mahasiswa sibuk dengan bahan-bahan kuliah mereka (jadi ingat jaman kuliah, tiap akan ujian atau kuis pastilah pemandangan begini sangat biasa dalam bis:p). Aku baru sadar, ini memang jamnya mahasiswa pergi ke kampus! Jadi ingin turun di FISIPOL saja, lalu ke lobby, menghirup udara bersih diantara rindangnya halaman FISIPOL… Sayangnya, tak bisa begitu :)

Ketika sampai di perempatan MM, macet mulai terjadi. 3 kali lampu merah, barulah bisa belok ke kanan, Jl. Teknika Utara. Memandang ke kanan, ada MM UGM (jadi ingat Dana..), lalu MEP (tempat Pak Tatwo mengajar), lanjut ke jembatan McD (jembatan bagus dengan 2 lengkung di atasnya seperti logo McD), melewati fakultas teknik, rumah sakit sardjito, belok ke kiri, ikuti jalan, lalu turun di depan FKG UGM. Pandang ke depan, itu kantorku.

Baiklah, perjalanan ke masa lalu sampai di sini dulu…Mari bekerja..:)

Sekedar Menulis

February 20th, 2007 by astrikusuma

Sekedar menulis….